Rabu, 18 November 2009

Sejarah Desa Subaya

Menurut prasasti Subaya yang kini tersimpan lembar ke 9 di Pura Puseh Desa Pekraman Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Dan lembar 1-8 di Pura Ratu Pingit Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Diceritakan bahwa pada tahun caka 1077 bulan caitra tanggal satu sedang bulan gelap, hari hariyang umanis wuku tolu (tanggal 8 April 1155 TM) Sri Paduka Raga Jaya bermusyawarah bersama pemuka agama dan para senopati kerajaan. Adapun maksud pertemuan tersebut untuk mengingat-ingat desa manakah yang layak ditempatkan di wilayah Taman Suci (Laba Pura) milik Ida Batara di Kunjara Asana (sekarang Pura Agung Desa Pekraman Tejakula).
Dijelaskan bahwa pada tahun tersebut penduduk Desa Sabaya (sekarang Subaya) di panggil agar menghadap Sir Maharaja Raga Jaya. Kemudian dalam pertemuan tersebut, dengan disaksikan para pemuka agama dan senopati kerajaan, baginda menanyakan dan memerintahkan mereka untuk ditempatkan di wilayah tanah laba pura milik Ida Betara di Kunjara Asana. Selanjutnya dengan senang hati menerima perintah dari Sri Paduka Maharaja.
Karena penduduk Desa Sabaya berkenan bertempat tinggal di tanah Palaba Pura milik Betara Kunjara Asana sesuai dengan peraturan-peraturan Labapura tentang pemeliharaan dan pekerjaan tanah maka dari itu Sri Maharaja Raga Jaya memberikan Piagam Prasasti kepada Desa Sabaya.
Desa Sabaya waktu dulu di sekitar Pura Agung Desa Pekraman Tejakula sekarang. Yang patut selalu dijaga sebagai pancaran sinar untuk memperkuat kehidupan desanya. Dengan status Desa Swatantra (otonom) karena mengerjakan tanah labapura untuk rakyat yang menjunjung periuk abu bunga raja yang diwujudkan Batara Kunjara Asana.
Berdasarkan cerita/mitos orang tua (para penglingsir) secara turun temurun di Desa Subaya letak wilayah Desa Pekraman Subaya sekarang, dulunya bernama Gunung Sengka (daerah perbukitan yang sulit dijangkau) hal ini kalau dikaitkan dengan kondisi geografis desa sekarang sangat cocok, karena posisi Desa Subaya sekarang berada di areal tanah perbukitan yang sulit dicari karena terjepit oleh pangkung/tukad dan bukit-bukit.
Pada waktu dulu, Desa Sabaya (yang letaknya dulu di sekitar areal Pura Agung/Puseh Desa Pekraman Tejakula sekarang) mengalami kehancuran.
Karena berbagai faktor, informasinya pun kurang jelas, tetua desa mengatakan pernah terjadi perang antar desa, adapula yang mengatakan karena kebajakan/di bajak oleh saudagar atau wong prahu (Bajak Laut) yang merampas hasil bumi di Desa Sabaya.
Barangkali karena faktor tersebut, akhirnya penduduk Desa Sabaya lari/mengungsi meninggalkan desanya, mencari atau naik ke areal perbukitan (Gunung Sengka) yang lebih aman dengan membawa Arta Pusaka Desa berupa Prasasti Pratima atau Arca sebagai perwujudan Ida Batara.
Kemudian penduduk Desa Sabaya yang melarikan diri ke wilayah perbukitan ini berkumpul/rapat. Dalam paruman tersebut, ada sebagian warga Sabaya menghendaki untuk melanjutkan perjalanan menuju Desa Sukawana, Kutuh, Batih, bahkan ada yang sampai Desa Tiingan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Sebagian warga Sabaya menghendaki tinggal ditempat karena merasa tidak kuat melakukan perjalanan/pelarian dengan membawa (mundut) arta pusaka desa seperti tersebut diatas. Oleh sebab itu, dalam rapat penduduk Desa Sabaya, diputuskan untuk bebas menentukan pilihan tempat tinggal.
Dengan adanya ikatan kekeluargaan yang mengikat di kedua belah pihak yakni, apabila suatu saat ada penduduk yang tinggal di area perbukitan melakukan upacara odalan atau pujawali dalam melestarikan kepercayaannya, dresta desa dan sima desa di wilayah perbukitan Gunung Sengka, maka warga Sabaya yang tadinya melanjutkan perjalanan ke desa lain agar datang kembali untuk melakukan persembayangan kembali/memuja arta pusaka desa yang dibawa (dipundut) dari desa sabaya, yang waktu dulu diusung berupa prasasti, yang merupakan Piagam pemberian Baginda Raja Sri Maharaja Raga Jaya.
Dengan adanya pasubayan atau perjanjian lisan antar warga sabaya tersebut, diareal perbukitan Gunung Sengka, lama kelamaan areal tersebut disebut Desa Subaya. Hal ini sampai sekarang masih dipatuhi oleh penduduk sabaya keturunan, baik berada di Desa Subaya maupun di desa-desa lainnya.
Hal ini dapat dilihat pada waktu pelaksanaan pujawali/odalan Ngusaba Sembah (ayunan) dan Ngusaba di Desa Pekraman Subaya yang dipenuhi pemedek dari desa-desa lain.
Geografis dan Pekraman
Desa Subaya terletak di areal/wilayah perbukitan dan merupakan salah satu desa dari 48 desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Subaya terdiri dari satu banjar dinas dan satu desa pekraman yaitu, Banjar Dinas Subaya dan Desa Pekraman Subaya. Dengan batas-batas wilayah antara lain :
Sebelah utara adalah Desa Pekraman Tejakula dan Desa Pekraman Les, sebelah timur adalah Desa Pekraman Batih, sebelah barat adalah Desa Pekraman Kutuh, dan disebelah selatan adalah Desa Pekraman Sekawana.
Jumlah krama di Desa Pekraman Subaya sampai tahun 2005 yaitu 226 kraman, yang digolongkan menjadi 3 tingkatan dengan sistem Ulupad yaitu : 1. Kraman Pideran (krama yang baru menikah masuk mekrama adat) yang terdiri dari 2 krama sesuai dengan posisi (linggih krama kiwa tengen) atau kiri-kanan dalam memasuki tahapan ulupad krama. 2. Krama Desa (Krama Pecerikan) yaitu posisinya diatas krama pideran dan dibawah peduluan desa yang didalamnya ada Bendesa Adat, Kelihan Desa ulupad, sekretaris adat, bendahara adat dan sayan desa (sinoman). Peduluan Desa (Gurun-gurun desa) yang posisinya di desa pekraman diatas krama desa yang terdiri dari 16 orang, dengan posisi kiri-kanan (kiwa-tengen) dengan sebutan berbeda-beda yaitu: Jro Bayan, anggotanya 2 orang, Jro Bau, keanggotaannya 6 orang, Jro Singgukan, keanggotaanya 2 orang dan Jro Pengenem, keanggotaannya 6 orang.
Desa Pekraman Subaya mempunyai pura kahyangan desa, selain itu juga memiliki Pura Dengkahyangan Desa (Pura Dangka). Pura-pura tersebut adalah Pura Puseh, Pura Bale Agung, Pura Dalem, Pura Pengubengan, Pura Pemujaan, Pura Pengalapan, Pura Batukepeh, Pura Dalem Kauh (Pura Ratu Pingit), Dalem Mrajapahit, Pura Bangsing dan Pura Mendaha, yang semuanya berjumlah 11. Tiga pura berstatus Kahyangan Desa (Kahyangan Desa) 8 Pura berstatus Dangkahyangan Desa (Pura Dangka)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar